Yunus | Ciri-ciri Khas (Pendahuluan/Pengantar) |
Ciri-ciri Khas
~~~~~~~~~~~~~~~
Empat ciri utama menandai kitab ini.
(1) Kitab ini salah satu di antara hanya dua kitab nubuat PL yang ditulis
seorang nabi yang lahir dan dibesarkan di kerajaan utara Israel (yang
lain adalah Hosea).
(2) Kitab ini merupakan karya agung gaya sastra cerita prosa yang singkat;
hanya doa ucapan syukur Yunus (Yun 2:2-9) ditulis dalam bentuk
syair.
(3) Kitab ini penuh dengan tindakan adikodrati Allah; selain dari penetapan
waktu badai yang diatur dan munculnya si ikan besar, ada ponon jarak,
seekor cacing dan angin timur, dan (yang paling hebat) pertobatan
seluruh kota Niniwe.
(4) Kitab ini berisi berita PL yang terjelas bahwa kasih karunia Allah yang
menyelamatkan adalah bagi orang bukan Yahudi dan juga orang Yahudi.
Penggenapan Dalam Perjanjian Baru
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Yesus menyamakan diri-Nya dengan Yunus, "Angkatan yang jahat dan tidak setia
ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda
selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan
tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim
bumi tiga hari tiga malam. Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan
bangkit bersama angkatan ini dan menghukumnya juga. Sebab orang-orang Niniwe
itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada
di sini lebih daripada Yunus!" (Mat 12:39-41).
Keterandalan Sejarah Kitab Ini
Para teolog liberal dan orang tidak percaya memandang kitab ini sebagai
kisah khayal yang dibuat antara abad ke-5 sehingga abad ke-3 SM yang
dimaksudkan untuk menentang nasionalisme Yahudi yang sempit dalam Yudaisme
pasca pembuangan. Menurut pandangan ini, kitab Yunus tidak berisi
peristiwa-peristiwa sejarah yang aktual. Akan tetapi, bagian lain PL
menyebut Yunus sebagai nabi yang diakui dari abad ke-8 SM (2Raj 14:25).
Dalam PB, Yesus sendiri mengacu kepada Yunus
(1) sebagai tanda nubuat PL terkemuka mengenai keberadaan-Nya selama tiga
hari di dalam kubur dan kebangkitan-Nya sesudah itu
(Mat 12:39-40; Luk 11:29),
(2) sebagai benar-benar memberitakan pertobatan kepada orang Niniwe yang
kemudian bertobat (Mat 12:41; Luk 11:30,32), dan
(3) sebagai bagian sejarah PL sama seperti dengan kunjungan ratu Syeba ke
istana Salomo (Mat 12:42; Luk 11:31).
Jelaslah, Yesus memandang kitab ini sebagai dapat diandalkan dari segi
sejarah; memandang kitab ini secara lain bukan saja menyatakan bahwa kita
mempunyai Alkitab yang bisa salah, tetapi juga Juruselamat yang bisa salah.