Wahyu | Ciri-ciri Khas (Pendahuluan/Pengantar) |
Ciri-ciri Khas
~~~~~~~~~~~~~~~
Delapan ciri utama menandai kitab ini.
(1) Wahyu merupakan satu-satunya kitab PB yang digolongkan sebagai nubuat
dan wahyu.
(2) Sebagai suatu kitab apokaliptis, beritanya disampaikan dalam bentuk
lambang-lambang yang menggambarkan kenyataan-kenyataan tentang masa dan
peristiwa yang akan datang sambil tetap memelihara teka-teki atau
rahasia tertentu.
(3) Banyak sekali angka digunakan, termasuk angka 2; 3; 3,5; 4; 5; 6; 7;
10; 12; 24; 42; 144; 666; 1.000; 1.260; 7.000; 12.000; 144.000;
100.000.000; dan 200.000.000. Secara khusus kitab ini menonjolkan angka
tujuh yang terdapat tidak kurang dari 54 kali yang melambangkan
kesempurnaan atau kepenuhan.
(4) Penglihatan-penglihatan begitu mencolok, dengan pemandangan yang sering
dialih-alihkan dari tempat di bumi ke sorga, kemudian kembali lagi ke
bumi.
(5) Malaikat-malaikat dikaitkan secara jelas dengan penglihatan-penglihatan
dan ketetapan-ketetapan sorgawi.
(6) Kitab ini bersifat polemik yang
(a) menyingkapkan sifat roh jahat dari setiap penguasa bumi yang
menyatakan dirinya sebagai allah, dan
(b) menyatakan Yesus Kristus sebagai Tuhan yang agung dan penguasa atas
raja-raja di bumi (Wahy 1:5; Wahy 19:16).
(7) Kitab ini juga dramatis yang membuat kebenaran beritanya menjadi begitu
hidup dan tegas.
(8) Kitab ini bersifat roh nubuat PL tanpa menggunakan kutipan-kutipan
secara formal dari PL itu sendiri.
Penafsiran
~~~~~~~~~~
Kitab ini merupakan kitab PB yang paling sulit untuk ditafsirkan. Sekalipun
para pembaca yang mula-mula barangkali memahami makna beritanya tanpa
terlalu banyak mengalami kebingungan, namun pada abad-abad berikutnya
pandangan yang beranekaragam mengenai makna kitab ini telah mengakibatkan
lahirnya empat aliran penafsiran yang besar.
(1) Penafsiran _preterist_ (dengan pandangan masa lampau) memandang
kitab ini dan nubuat-nubuatnya sebagai hal yang telah digenapi pada
masa gelaran sejarah asli dari kekaisaran Romawi, kecuali untuk
pasal 19-22 (Wahy 19:1-22:21), yang masih menunggu penggenapannya
pada masa yang akan datang.
(2) Penafsiran _historicist_ (yang menekankan unsur sejarah) memandang
kitab Wahyu sebagai suatu prakiraan nubuat dari seluruh perjalanan
sejarah gereja sejak zaman Yohanes sampai pada zaman akhir.
(3) Penafsiran _idealist_ (yang menekankan pemikiran ideal) menganggap
lambang-lambang dalam kitab ini sebagai hal yang mengungkapkan
prinsip-prinsip rohani tertentu tentang kebaikan dan kejahatan dalam
sejarah pada umumnya, tanpa menghubungkannya dengan peristiwa-peristiwa
nyata dalam sejarah.
(4) Penafsiran _futurist_ (dengan pandangan masa yang akan datang)
mendekati pasal 4-22 (Wahy 4:1-22:21) sebagai nubuat tentang
peristiwa-peristiwa dalam sejarah yang hanya akan terjadi pada akhir
zaman ini. Pada hakikatnya Alkitab ini menafsirkan kitab Wahyu dari
sudut pandang futurist ini.