Ayub

Tujuan dan Survai
(Pendahuluan/Pengantar)
Fungsi: (JJ), (++), (+), (-), (--), (1), (In).
Versi/Alat: [T], [B], [F], [L], [St], [3], [2] || [J], [R], [To] || (M), (S), (L), ©.
Bagian: Latar Belakang -- Garis Besar -- Tujuan dan Survai -- Ciri-ciri Khas.
Tujuan
~~~~~~
Kitab Ayub menggumuli pertanyaan abadi, "Jikalau Allah itu adil dan penuh
kasih, mengapa diizinkan-Nya orang yang sungguh-sungguh benar seperti Ayub
(Ayub 1:1,18) menderita demikian hebat?" Ketika menggumuli soal ini,
penulis mengemukakan kebenaran-kebenaran berikut.

(1) Selaku musuh Allah, Iblis menerima izin untuk menguji kesejatian iman
    seorang benar dengan menyiksa dia; tetapi kasih karunia Allah menang
    atas penderitaan karena oleh iman Ayub tetap kokoh dan tidak goyah,
    bahkan ketika kelihatannya tidak ada keuntungan jasmaniah atau duniawi
    untuk terus mengabdi kepada Allah.

(2) Allah digerakkan oleh pertimbangan-pertimbangan yang terlalu luas
    sehingga tak dapat dipahami oleh pikiran manusia (Ayub 37:5); karena
    kita tidak melihat dengan kelapangan hati dan visi Yang Mahakuasa, maka
    kita memerlukan Allah menyatakan diri-Nya kepada kita.

(3) Landasan iman yang sesungguhnya tidak terletak dalam berkat-berkat
    Allah, dalam situasi-situasi pribadi atau jawaban-jawaban yang cerdik
    pandai, tetapi dalam penyataan Allah sendiri.

(4) Allah kadang-kadang mengizinkan Iblis menguji orang benar dengan
    kesengsaraan agar memurnikan iman dan kehidupan mereka, sebagaimana emas
    dimurnikan oleh api (Ayub 23:10; bd. 1Pet 1:6-7); ujian
    semacam itu mengakibatkan peningkatan integritas rohani dan kerendahan
    hati umat-Nya (Ayub 42:1-10).

(5) Sekalipun cara-cara Allah menghadapi kita kadang-kadang tampak suram dan
    kejam (sebagaimana dikira oleh Ayub sendiri), akhirnya Allah tampak
    dalam belas kasihan dan kemurahan yang penuh.
    (Ayub 42:7-17; bd. Yak 5:11).

Survai
~~~~~~
Terdapat lima bagian tertentu di dalam struktur kitab Ayub:

(1) Prolog (pasal 1-2; Ayub 1:1-2:13) yang melukiskan musibah Ayub dan
    penyebabnya;

(2) tiga rangkaian dialog di antara Ayub dan ketiga orang temannya, ketika
    mereka mencari jawaban-jawaban yang masuk akal untuk penderitaan Ayub
    (pasal 3-31; Ayub 3:1-31:40);

(3) empat monolog oleh Elihu, seorang yang lebih muda daripada Ayub dan
    ketiga temannya, yang berisi sekilas pengertian mengenai makna
    (sekalipun belum mengenai penyebab) penderitaan Ayub
    (pasal 32-37; Ayub 32:1-37:24);

(4) Allah sendiri, yang menegur ketidaktahuan dan keluhan Ayub serta
    mendengarkan tanggapan Ayub atas penyataan-Nya
    (pasal 38, 1-42, 6; Ayub 38:1-38; Ayub 1:1-42:17; Ayub 6:1-30);

(5) epilog (Ayub 42:7-17) yang mencatat pemulihan Ayub. Kitab Ayub
    seluruhnya ditulis dalam bentuk syair, kecuali tiga bagian:

    (a) prolog,

    (b) Ayub 32:1-6, dan

    (c) epilog.

Dalam pasal 1 (Ayub 1:1-22) Ayub diperkenalkan sebagai seorang benar
yang takut akan Allah (Ayub 1:1,8) dan terkaya dari semua orang di
sebelah Timur (Ayub 1:3). Keadaan hidupnya mendadak berubah oleh
serangkaian musibah besar yang memusnahkan harta milik, anak-anak, dan
kesehatannya (Ayub 1:13-22; Ayub 2:7-10). Ayub bingung sama sekali, karena
tidak menyadari bahwa dirinya terlibat dalam pertentangan di antara Allah
dan Iblis (Ayub 1:6-12; Ayub 2:1-6). Ketiga teman Ayub -- Elifas, Bildad, dan
Zofar -- datang untuk menghibur Ayub, tetapi akhirnya berdebat dengannya
mengenai penyebab terjadinya penderitaan itu. Mereka bersikeras bahwa
karena Allah itu adil, penderitaan Ayub pasti merupakan hukuman atas
dosa-dosa tersembunyi dan satu-satunya jalan keluar baginya adalah
bertobat. Ayub menolak jawaban mereka, menegaskan ketidakbersalahannya
dan mengaku ketidakmampuannya untuk memahami (pasal 3-31;
Ayub 3:1-31:40).  Elihu mengemukakan sudut pandang yang lain, yaitu
penderitaan Ayub menyangkut maksud penebusan Allah untuk lebih memurnikan
Ayub (pasal 32-37; Ayub 32:1-37:24).

Pada akhirnya semua terdiam, termasuk Ayub, ketika Allah sendiri berbicara
kepada Ayub mengenai hikmat dan kuasa-Nya selaku Pencipta. Ayub mengakui
ketidaktahuan dan ketidakberartian dirinya dengan penuh penyesalan dan
rendah hati (pasal 38-41; Ayub 38:1-41:25). Ketika Ayub bertobat dari
berbantah dengan Yang Mahakuasa (Ayub 40:1-4,8; Ayub 42:5-6) dan berdoa bagi
teman-temannya yang telah sangat melukai hatinya (Ayub 42:8,10), ia
dibebaskan dari pencobaan berat itu dan dipulihkan dua kali lipat
(Ayub 42:10); Ayub juga dibenarkan ketika Allah berkata bahwa Ayub
telah "berkata benar tentang Aku" (Ayub 42:7). Kehidupan Ayub kemudian
hari lebih diberkati daripada sebelum penderitaan itu (Ayub 42:12-17).
Sekalipun Allah tidak pernah memberikan pemahaman filosofis kepada Ayub
mengenai penyebab penderitaannya, pembaca memperoleh perspektif yang penting
ini dari prolog.
Nomor Topik = "08075" | Untuk Indeks Topik (Kitab)
Untuk Selanjutnya | Ke Atas | Untuk Indeks Buku Alkitab (c).