2Samuel | Tujuan dan Survai (Pendahuluan/Pengantar) |
Tujuan
~~~~~~
2 Samuel melanjutkan sejarah yang bersifat nubuat dari sifat teokratis
kerajaan Israel. Kitab ini secara mendalam mengilustrasikan dari kehidupan
pribadi dan pemerintahan Daud syarat-syarat perjanjian sebagaimana
dikemukakan Musa dalam kitab Ulangan: ketaatan pada perjanjian
menghasilkan berkat-berkat Allah; pengabaian hukum Allah mengakibatkan
kutukan dan hukuman (lih. Ul 27:1-30:20).
Survai
~~~~~~
Catatan lengkap dari kehidupan Daud terbentang dari 1Sam 16:1 hingga
1Raj 2:11. 2 Samuel dimulai dengan kematian Saul dan pengurapan Daud di
Hebron sebagai raja atas Yehuda selama tujuh setengah tahun (pasal 1-4;
2Sam 1:1-4:12). Sisa kitab ini memusatkan perhatian pada 33 tahun
berikutnya dalam kehidupan Daud sebagai raja seluruh Israel di Yerusalem
(pasal 5-24; 2Sam 5:1-24:25). Titik peralihan dari kitab ini dan juga
dari kehidupan Daud ialah perzinaannya dengan Batsyeba dan pembunuhan Uria
(pasal 11; 2Sam 11:1-27). Sebelum lembaran gelap ini, Daud melambangkan
sebagian besar cita-cita seorang raja teokratis. Di bawah perkenan, hikmat,
dan pengurapan Allah, Daud
(1) merebut Yerusalem dari suku Yebus dan menjadikannya ibu kota Israel
(pasal 5; 2Sam 5:1-25),
(2) membawa kembali tabut perjanjian ke Yerusalem di tengah-tengah
sukacita dan perayaan yang besar (pasal 6; 2Sam 6:1-23), dan
(3) menaklukkan musuh-musuh Israel, dimulai dengan bangsa Filistin
(pasal 8-10; 2Sam 8:1-10:27); lalu "makin lama makin besarlah
kuasa Daud, sebab Tuhan, Allah semesta alam, menyertainya"
(2Sam 5:10). Kepemimpinannya yang kuat menarik banyak "orang
perkasa" dan membangkitkan kesetiaan yang mendalam. Daud sadar bahwa
Allah telah menempatkan dirinya sebagai raja atas Israel, dan dengan
terus terang ia mengakui kepemimpinan Allah atas dirinya dan bangsa
Israel. Allah berjanji melalui nubuat bahwa seorang keturunan Daud
akan duduk di takhtanya, yang akan menggenapi secara sempurna peranan
seorang raja teokratis (2Sam 7:12-17; bd. Yes 9:5-6; Yes 11:1-5;
Yer 23:5-6; Yer 33:14-16).
Akan tetapi, setelah dosa perzinaan dan pembunuhan tragis yang dilakukan
oleh Daud, maka kehancuran dan pemberontakan moral melanda keluarganya
(pasal 12-17; 2Sam 12:1-17:29) dan seluruh bangsa itu
(pasal 18-20; 2Sam 18:1-20:26); berkat nasional yang demikian besar
diubah menjadi hukuman nasional. Sekalipun Daud dengan sungguh-sungguh
bertobat dan mengalami rahmat pengampunan Allah (2Sam 12:13; bd.
Mazm 51:1-21), akibat-akibat pelanggarannya itu terus berlanjut hingga
akhir hidupnya bahkan hingga sesudah itu (bd. 2Sam 12:7-12). Sekalipun
demikian, Allah tidak menolak Daud sebagai raja, sebagaimana Dia menolak
Saul (bd. 1Sam 15:23). Sesungguhnya, hati Daud yang merindukan Allah
(lih. mazmur-mazmur gubahannya), dan kebenciannya akan segala bentuk
penyembahan berhala menjadikannya teladan dan tolok ukur bagi semua raja
Israel yang kemudian (bd. 2Raj 18:3; 2Raj 22:2). 2 Samuel diakhiri dengan
pembelian tempat pengirikan Arauna oleh Daud yang kemudian menjadi tempat
didirikannya Bait Suci (2Sam 24:18-25).